Skip to main content
Foto: Robertus Risky/Project Arek
Cerita Mendalam
Emak-emak Dupak Magersari Melawan Sumuk! (1)
*Dirikan Koperasi, Siasati Dampak Krisis Iklim
Emak-emak di Kampung Dupak Magersari, Surabaya, kini bisa merenovasi rumah secara mandiri. Melalui Koperasi Srikandi Kapirel, para perempuan ini berperan sebagai manajer proyek renovasi rumah untuk menciptakan hunian di kampung padat yang lebih adaptif terhadap dampak kriris iklim.

SUARA ANAK KECIL terdengar bersahutan dari dalam rumah. Di ruang tamu sebuah rumah di Kampung Dupak Magersari, Surabaya, Ika Sofi Widiyanti (37), duduk sambil menggendong dan menenangkan anaknya. Tak lama kemudian, sang suami datang menghampiri dan mengajak anak mereka bermain, sehingga Ika dapat berbincang dengan kami dengan nyaman.

Ika adalah Bendahara Koperasi Srikandi Kapirel. Koperasi ini dibentuk pada Februari 2024, dimulai dari rasa ingin tahu dan semangat untuk menata kampung. Kampung mereka dipadati dengan rumah dengan sirkulasi udara yang buruk, lembap, dengan kerusakan bangunan di beberapa bagian. Singkat kata, sumuk alias panas.

Pertemuan warga dengan Arsitek Komunitas (Arkom) Jatim memperkenalkan mereka dengan keberhasilan Kampung Kalijawi di Yogyakarta. Kampung Kalijawi merupakan pemukiman di pinggir sungai Yogyakarta yang rentan penggusuran serta banjir karena status lahannya yang berada di Sultan Ground (SG), tanah kesultanan Yogyakarta.

Komunitas di sana, yakni Paguyuban Kalijawi, berhasil melakukan renovasi rumah secara mandiri menggunakan sistem tabungan kolektif. Inilah yang jadi inspirasi bagi warga Kampung Dupak Magersari untuk berdaya melalui koperasi, juga merenovasi rumah mereka yang sumuk.

Awalnya itu memang tujuan awal kita ingin memperbaiki kampung seperti di Kampung Kalijawi. Tapi, kita mulai terlebih dahulu dengan membentuk sistem koperasi simpan pinjam,” ujar Ika, Rabu, 8 Juli 2026.

Sejak itu, sejumlah perwakilan warga Dupak Magersari mulai belajar hal baru: sistem pengelolaan keuangan mikro sebagai langkah awal untuk melakukan perbaikan rumah dan kampung mereka.

Potrait Ika Sofi Widyanti di tangga rumahnya. Di koperasi ia dipercaya warga sebagai bendahara. Dirinya berencana melakukan renovasi rumah karena tidak adanya ventilasi udara di rumah yang ia tinggali. Tanpa koperasi ini, ia mengaku, mustahil melakukan renovasi rumah untuk meredam cuaca panas di Surabaya. (Robertus Risky/ Project Arek) 

 

Sistem yang diterapkan sangat sederhana, namun menuntut kedisiplinan. Warga didorong untuk menyisihkan Rp2.000 setiap hari. Dalam pelaksanaannya, warga lebih memilih untuk mengumpulkan dan menyetorkan dana secara sekaligus setiap bulan saat ada pertemuan rutin.

“Ibu-ibunya tidak mau kalau setiap hari harus mencatat dan menagih, karena dianggap ribet. Jadi diputuskan untuk dikumpulkan pribadi masing-masing Rp2.000, sehingga saat pertemuan sebulan sekali, mereka membayar Rp60.000,” jelas Ika.

Meski terlihat kecil, konsistensi ini membuahkan hasil. Pada awal berdiri, uang yang terkumpul langsung diputar untuk pinjaman anggota.

Ika mengingat bagaimana pinjaman pertama hanya berkisar di angka Rp400.000. Dengan sistem jasa yang sangat ringan, yakni Rp5.000 untuk setiap pinjaman Rp100.000 dengan jangka waktu tiga bulan, koperasi ini berhasil menjaga likuiditasnya tetap sehat.

Di dalam koperasi kami, tidak ada uang yang 'mandek' atau berhenti. Setiap bulan, dana yang terkumpul langsung dipinjamkan kembali ke anggota.”

Menurut Ika, di awal beroperasi, koperasi hanya bisa meminjamkan Rp400.000. Sekarang anggota sudah bisa meminjam hingga Rp2 juta untuk sistem simpan pinjam.

Inspirasi dari Kalijawi

Koordinator Arkom Jatim, Puspitaningtyas Sulistyowati mengungkapkan, Kampung Dupak Magersari di Surabaya dan Kampung Kalijawi di Yogyakarta punya kemiripan - sama-sama menghadapi masalah atau konflik pertanahan. Kalijawi berada di lahan kesultanan yang rawan penggusuran dan banjir, sementara warga Dupak Magersari juga menghadapi ketidakpastian serupa, yakni sengketa lahan dengan PT. KAI.

Komunitas di sana, Paguyuban Kalijawi, telah membuktikan mereka bisa berdaya melalui kelompok tabungan yang dimulai dari iuran kecil yaitu Rp2.000 per hari. Mereka berhasil mengumpulkan dana dan merenovasi banyak rumah anggotanya. Arkom Jatim ingin mereplikasi semangat kemandirian tersebut di Surabaya, agar warga Dupak Magersari dapat berdaya dengan kemampuan mereka sendiri.

BACA JUGA : Siklus Cuaca Berubah, Kacaukan Usaha Warga

Arkom Jatim lantas mengajak warga Kampung Dupak Magersari untuk belajar ke Kampung Kalijawi di Yogyakarta. Langkah awal gerakan ini tidaklah mudah. Pada mulanya, warga merasa skeptis dan takut ketika mendengar istilah "koperasi" atau "kelompok tabungan". Hal ini dipicu maraknya Koperasi Simpan Pinjam (KSP) atau praktik pinjaman informal yang sering kali membuat warga terjerat utang yang tidak berkesudahan.

Dulu, saat teman-teman Arkom Jatim menyampaikan ide ini, warga tidak langsung berminat karena ada ketakutan terhadap model koperasi yang seperti KSP, yang ujung-ujungnya membuat orang terlilit utang di mana-mana," kata Koordinator Arkom Jatim, Puspitaningtyas Sulistyowati, atau Tyas, panggilan akrabnya, Rabu 8 Juli 2026.

Untuk mematahkan keraguan tersebut, Arkom Jatim memfasilitasi warga untuk melakukan studi banding ke Kampung kalijawi, Yogyakarta, sekitar tahun 2022. Sebanyak 10 orang perwakilan warga, termasuk ibu-ibu yang membawa anak-anak mereka, berangkat menggunakan mobil untuk melihat langsung Kampung Kalijawi.

Kampung ini terletak di pinggir sungai. Secara fisik, kampung ini memiliki karakteristik padat penduduk dengan kondisi jalan yang naik turun. Meskipun berada di tepi sungai, kawasan ini tidak rindang karena tidak banyak pepohonan.

Suasana rumah yang dibangun berdempetan dan berbagi ruang dengan rel kereta api di Kampung Dupak Magersari. Rumah-rumah di sana dibangun menyesuaikan rel dan lahan yang sangat terbatas. Sejumlah warga terinspirasi gerakan kolektif warga Kampung Kalijawi, Yogyakarta untuk mengembangkan hunian yang lebih adaptif meredam dampak kriris iklim khususnya bagi masyarakat marginal. (Robertus Risky/ Project Arek)

 

Kampung Kalijawi mengalami masalah suhu panas atau Urban Heat Island (UHI), persis dengan yang dialami Kampung Dupak Magersari. Kondisi kepadatan bangunan yang tinggi dan minimnya pepohonan membuat warga di sana rentan terhadap panas.

Kampung Kalijawi menghadapi tantangan ganda, yaitu kerentanan terhadap suhu panas sekaligus risiko banjir karena lokasinya yang berada di pinggir sungai. "Setelah pulang dari sana, ibu-ibu menjadi yakin, kelompok tabungan ini bukan seperti KSP yang mereka takuti. Akhirnya disepakati untuk memulai sistem tersebut dari satu kelompok kecil di RT 01," tambah Tyas.

Mandiri bersama Koperasi

Sistem yang diterapkan di Koperasi Srikandi Kapirel ini sangat sederhana, namun butuh disiplin tinggi. Kuncinya adalah menabung dengan nominal kecil setiap hari, yaitu Rp2.000 per hari. Warga kemudian menyepakati sistem iuran mingguan, lantas berubah lagi jadi iuran bulanan sebesar Rp60.000 agar lebih mudah secara administrasi.

Salah satu dampak yang langsung dirasakan warga adalah terhindarnya mereka dari jeratan pinjaman online atau praktik "gali lubang tutup lubang". Tyas mencontohkan kisah salah satu warga bernama Widya yang merasa sangat terbantu sejak bergabung dengan koperasi tersebut.

"Setelah ikut kelompok tabungan, Widya mengaku tidak perlu lagi meminjam ke pihak-pihak lain yang memberatkan. Dia bisa memutus rantai tambal sulam utang yang selama ini ia jalani. Testimoni inilah yang membuat kelompok-kelompok lain mulai terbentuk secara alami hingga sekarang ada tiga kelompok dengan total anggota sekitar 30 orang," jelasnya.

Sistem yang digunakan sangat mengedepankan kemandirian warga. Arkom Jatim hanya berperan sebagai pendamping yang memastikan sistem tersebut tidak mempersulit anggota dalam membayar kembali pinjamannya. Aturan main, seperti jumlah pinjaman yang maksimal empat kali lipat dari jumlah tabungan, sepenuhnya merupakan kesepakatan warga.

Satu bulan sekali emak-emak Dupak Magersari berkumpul untuk menyetorkan iuran koperasi. Kini mereka mampu mengelola pendanaan renovasi rumah bagi anggotanya. Koperasi menjadi gerakan kolektif warga untuk menjawab kebutuhan hunian yang lebih layak dan manusiawi. (Robertus Risky/Project Arek)

Pencapaian paling signifikan dari gerakan ini adalah dimulainya pilot project renovasi rumah bagi anggota kelompok tabungan. Berbeda dengan pembangunan rumah pada umumnya yang biasanya didominasi kaum pria, di Dupak Magersari, ibu-ibu pemilik rumah berperan aktif sebagai manajer proyek.

Ini pertama kalinya ibu-ibu benar-benar mengikuti proses pembangunan secara intensif,” kata Tyas.

Menurut Tyas, biasanya bapak-bapak yang mengurus tukang, beli material, atau memahami desain. “Di sini, ibu-ibu sendiri yang menghubungi tukang, membeli material, hingga memahami gambar teknis bangunannya," kata Tyas.

Ini memang jadi misi Arkom Jatim: melibatkan perempuan atau ibu-ibu sebagai motor penggerak utama dalam mengelola koperasi dan renovasi ini. Langkah ini dianggap strategis untuk membongkar paradigma urusan pembangunan atau konstruksi adalah domain laki-laki.

Proses renovasi ini tidak dilakukan secara serampangan. Sebelum pembangunan dimulai, warga telah melakukan pemetaan spasial dan non-spasial di lingkungan RT 01, RT 02, dan RT 04. Ini adalah metode yang digunakan untuk mendata kondisi warga dan lingkungan secara menyeluruh sebelum perbaikan dilakukan. Hasil pemetaan ini menjadi dasar dalam menentukan prioritas renovasi dan perencanaan kampung secara jangka panjang.

Pemetaan spasial berkaitan dengan aspek fisik dan geografis dari rumah serta lingkungan sekitarnya. Misalnya, posisi atau letak rumah, bentuk bangunan, kondisi infrastruktur, dan semacamnya. Sedangkan, pemetaan non-spasial berkaitan dengan aspek sosial, ekonomi, dan aturan yang berlaku di masyarakat. Contohnya, jumlah kepala keluarga di suatu rumah, jenis pekerjaan warga, dan sebagainya.

Suasana rumah salah satu warga yang dibangun tanpa ventilasi memadai. Minimnya ruang terbuka di rumah-rumah warga ini, membuat suhu di dalam rumah menjadi sangat panas dan tidak efektif meredam cuaca di Surabaya yang bisa mencapai 34 derajat Celsius. (Robertus Risky/Project Arek)

Proses konsultasi desain ini bahkan memakan waktu hingga tiga bulan sebelum pembangunan fisik dimulai pada April 2026 lalu. Renovasi yang dilakukan di Dupak Magersari bukan sekadar memperbaiki atap yang bocor, melainkan menciptakan hunian yang sejuk, misalnya dengan memastikan ventilasi yang cukup untuk mengatur suhu ruangan.

Jika hasil pembangunan tidak sesuai dengan desain awal, pemilik rumah memiliki beban moral dan tanggung jawab langsung kepada kelompok tabungan. Sebab dana yang digunakan adalah uang kolektif warga, bukan dana hibah dari pihak luar.

BACA JUGA : Panase Suroboyo Dihajar Kipas Angin

"Harapan kami, pemerintah bisa melihat dan mendukung gerakan ini. Bukan harus selalu berupa dana langsung untuk renovasi rumah, tetapi bisa melalui solusi kreatif lain. Misalnya, bantuan untuk usaha koperasi atau penguatan ekonomi warga sehingga uang yang berputar di dalam sistem tabungan renovasi ini bisa semakin besar," tuturnya.

Dari Koperasi ke Renovasi

Sejak awal, warga bersemangat membentuk koperasi supaya mereka bisa merenovasi rumah masing-masing. Namun proses ini tak instan. Renovasi rumah membutuhkan dana yang besar, sementara koperasi baru  berdiri. Di tahun pertama koperasi berdiri, baru ada 12 orang yang bergabung, dengan iuran Rp60.000 per bulan. Maka dana yang terkumpul kurang dari Rp1 juta per bulan.

Karena dana tersebut belum cukup untuk renovasi, pengurus memutuskan untuk memutarnya melalui kegiatan simpan pinjam. Tujuannya adalah agar uang tersebut tidak menjadi “uang diam” dan modalnya bisa terus berputar dengan aturan yang disesuaikan dengan kondisi warga.

Rencana renovasi rumah warga baru bisa direalisasikan setelah jumlah anggota koperasi bertambah dan ada bantuan dana hibah dari Arsitek Komunitas (Arkom) Jatim sebesar Rp50 juta. Inilah yang jadi modal koperasi untuk program renovasi rumah di Kampung Dupak Magersari.

Dalam koperasi yang dikelola warga Dupak Magersari ini, Arkom Jatim, berperan sebagai pendamping dan fasilitator yang membantu warga berproses secara mandiri. Arkom Jatim lah yang memberikan referensi mengenai keberhasilan komunitas di tempat lain, seperti Paguyuban Kalijawi di Yogyakarta, yang telah melakukan renovasi melalui kelompok tabungan.

Bendahara Koperasi Srikandi Kapirel, Ika Sofi Widiyanti bercerita, sebelum renovasi dilakukan, maka warga harus mengikuti pertemuan. Ika menyebut ini fase “sekolah” yaitu pertemuan-pertemuan rutin untuk memberikan pemahaman kepada warga mengenai pentingnya sirkulasi udara dan pencahayaan alami di dalam rumah.

Alat ukur suhu menujukkan suhu di dalam rumah warga mencapai 29 derajat Celsius. Tanpa pendingin ruangan seperti AC, mustahil menurunkan suhu itu agar penghuninya nyaman. Yang bisa dilakukan warga dengan segala keterbatasannya adalah, melakukan gerakan kolektif dengan membentuk koperasi yang memungkinkan mereka merenovasi rumah dengan ventilasi yang baik. (Robertus Risky/Project Arek)

Fase itu dimulai sejak tahun 2025. Warga diajak dan dilibatkan langsung untuk mengamati kondisi rumah mereka menggunakan termohigrometer, yakni alat untuk mengukur suhu dan kelembapan di dalam rumah secara akurat.

Warga dibekali buku catatan harian bernama “Ngayukno Omah” yang berarti ‘mengindahkan rumah’. Selama tujuh hari berturut-turut, warga mencatat kondisi panas di rumah mereka. Dalam catatan tersebut, warga juga menulis jenis baju yang mereka pakai, ruang mana saja yang dipakai, kipas angin dinyalakan atau tidak, cuaca di luar hujan, mendung, atau kemarau, dan kolom lainnya untuk mencatat hal-hal yang berpengaruh pada persepsi rasa panas.

Lantas, hasil dari buku catatan harian yang diisi selama seminggu itu, Arkom Jatim merangkumnya menjadi rapor untuk setiap rumah. Melalui rapor itu, warga mulai menyadari rumah mereka selama ini bagaikan “kaleng yang menyimpan panas”.

Warga juga belajar mengenai teori kenyamanan termal. Yang dibahas di antaranya, cross ventilation atau ventilasi silang, mengatur agar ada bukaan atau jendela yang memungkinkan udara bergerak dari dua arah, bukan hanya satu arah.

Lalu, stack effect atau efek cerobong, teori yang menjelaskan udara panas akan naik ke atas sementara udara dingin berada di bawah. Dari teori ini, warga belajar soal cara mengeluarkan udara panas yang terkumpul di bagian atas ruangan agar tidak menghambat masuknya udara dingin.

Kemudian, mereka juga belajar soal rekayasa ruang. Pada rumah-rumah yang menempel dengan dinding tetangga, warga belajar teknik melubangi bagian atas dinding, atau menggunakan alat seperti exhaust fan untuk menarik udara keluar.

Meski anggaran renovasi sudah tersedia, tak semua warga serta merta bersemangat mengambil kesempatan renovasi rumah. Banyak yang ragu. Dari lima orang yang awalnya direncanakan untuk renovasi rumah, hanya tiga orang yang akhirnya memantapkan diri untuk melakukan renovasi pada tahap awal.

Alasannya bermacam-macam, ada yang masih sibuk dengan pekerjaan rumah tangga, ada juga yang masih fokus mengurusi lansia di keluarganya. Jadi untuk tahap awal kemarin, baru tiga rumah yang benar-benar selesai direnovasi dengan total dana yang terserap sekitar Rp30 juta,” ungkap Ika.

Setiap rumah mendapatkan alokasi dana maksimal Rp10 juta. Sistem pembiayaannya didesain agar tidak memberatkan, yaitu 25 persen dari total biaya dianggap sebagai hibah, sementara 75 persen sisanya (maksimal Rp7,5 juta) dikembalikan ke koperasi dalam jangka waktu 30 bulan atau 2,5 tahun.

Koperasi mengedepankan prinsip tanggung jawab finansial. Sebelum menerima dana renovasi rumah, anggota koperasi wajib melunasi semua tanggungan pinjaman simpan pinjam yang ada di koperasi.

“Tidak boleh ada pinjaman ganda. Jadi jika saya mau merenovasi rumah dan masih punya utang simpan pinjam sebesar Rp1 juta, maka dana renovasi Rp10 juta tersebut akan dipotong terlebih dahulu untuk melunasi utang lama saya, baru sisanya diberikan dalam bentuk material atau dana perbaikan,” jelas Ika.

BACA JUGA :

Rayuan Pulau Palsu di Pesisir Surabaya (1)

Rayuan Pulau Palsu di Pesisir Surabaya (2)

Hingga sekarang, Koperasi Srikandi Kapirel telah berjalan hampir tiga tahun dan memiliki sekitar 25 anggota aktif. Anggota koperasi terbagi dalam dua kelompok besar. Dalam konteks koperasi di Kampung Dupak Magersari, yang dimaksud dengan kelompok adalah kelompok tabungan yang berfungsi sebagai unit dasar pengelolaan dana dan koordinasi warga.

Kelompok ini merupakan pengelola dana bersama. Melalui kelompok tersebut, warga belajar mengenai sistem dan cara kerja koperasi. Pada awal pembentukannya, koperasi ini hanya terdiri dari satu kelompok dengan 12 orang anggota.

Jumlah kelompok sempat bertambah menjadi tiga, sebelum akhirnya muncul rencana untuk mengonversinya menjadi dua kelompok saja. Ukuran per kelompok yang dianggap ideal adalah 10 orang. Ini bertujuan agar proses diskusi berjalan dan semua anggota terlibat aktif, sehingga tidak ada yang hanya sekadar mengikuti keputusan orang lain.

Untuk proses renovasi rumah, di tahap awal hanya tiga warga yang siap. Total dana yang terkumpul sebesar Rp30 juta, maka setiap warga mendapatkan alokasi dana renovasi rumah dari koperasi sebesar Rp10 juta. Motivasi terbesar ketiga warga ini adalah kondisi rumah yang tidak layak, suhu yang panas, kelembapan yang tinggi, maupun kerusakan fisik seperti dinding lapuk dan genteng bocor.

Harapannya suhu tetap adem sehingga bisa mengurangi penggunaan kipas angin,” kata Riski Indrayanti (38), salah satu dari tiga warga pertama di Kampung Dupak Magersari yang mulai program renovasi rumah.

“Anggaran itu dari koperasi dan pihak Arkom Jatim, ada dana sekitar Rp10 juta per orang. Kami membuat Rencana Anggaran Biaya (RAB) sesuai dengan budget tersebut,” tutur Riski. Dana tersebut kemudian dikelola secara mandiri untuk membeli material dan membayar tenaga kerja pilihan mereka sendiri.

Model pendanaan ini menunjukkan efektivitas koperasi dalam menyalurkan bantuan yang tepat sasaran. Warga diberikan kebebasan untuk menentukan prioritas perbaikan rumah mereka sendiri selama masih dalam batas anggaran yang disepakati.

Renovasi yang dilakukan melalui program ini bukan untuk mempercantik bangunan, melainkan fokus pada kenyamanan termalnya. Salah satu masalah utama di pemukiman padat seperti Kampung Dupak Magersari adalah suhu ruangan yang panas dan pengap. Karena itu, proses renovasi difokuskan pada penempatan ventilasi atau bukaan di dalam rumah.

“Prosesnya lumayan panjang, hampir satu tahun untuk sampai tahap pengerjaan. Mulai dari pengukuran rumah hingga menentukan penempatan ventilasi. Tujuannya supaya rumah nyaman dan tidak panas lagi,” tutur Ika Sofi Widiyanti, Bendahara Koperasi Srikandi Kapirel. 

 


*Artikel ini merupakan bagian dari serial "Krisis Iklim", kolaborasi projectarek.id dan iklimkita.org, media yang dikelola oleh LaporIklim.